• Roby Widjaja

It’s a [ Roby Widjaja Tells a Story About Roby Widjaja ] Story — Part 3

It was first published on medium.com


Read also: It’s a [ Roby Widjaja Tells a Story About Roby Widjaja ] Story — Part 2


Baca juga: It’s a [ Roby Widjaja Tells a Story About Roby Widjaja ] Story — Part 2



Fresh raw tuna fishes are usually used on sushi. Tuna fish body parts are usually named and priced differently. The higher the fish fat percentage on the body part, the higher the price per kilogram. The most expensive tuna fish in the global market is Bluefin Tuna. Photograph source: https://unsplash.com/photos/wmPDe9OnXT4.

Ikan Tuna segar mentah biasanya dipakai di makanan sushi. Bagian — bagian tubuh ikan tuna biasanya dinamai dan diberi harga berbeda — beda. Semakin tinggi kadar lemak ikan pada bagian tubuh itu, semakin tinggi harganya per kilogram. Ikan Tuna paling mahal di pasar global adalah Ikan Tuna Sirip Biru. Sumber foto: https://unsplash.com/photos/wmPDe9OnXT4.



“What Happened in Vegas Stays in Vegas”

“Apa Yang Terjadi di Kota Las Vegas Tetap Menjadi Rahasia Selamanya”


No, It isn’t “What Happened in Vegas Stays in Vegas”, It is “What Happened in Bali is written here”. It was a survival mode of life of Roby Widjaja at that time. Trying to survive with only about USD 2,000 cash, jobless, and no monthly income. It was nothing to do with passions, purposes of life, ambitions, or even pursuing his personal legend.


Bukan, Ini bukanlah “Apa Yang Terjadi di Kota Las Vegas Tetap Menjadi Rahasia Selamanya”, Ini adalah “Apa Yang Terjadi di pulau Bali ditulis disini”. Waktu itu adalah masa bertahan hidup dari secuil potongan dari hidup Roby Widjaja. Mencoba bertahan hidup hanya dengan uang tunai sekitar USD 2,000, sedang tidak memiliki pekerjaan, dan tidak memiliki penghasilan per bulan. Sama sekali tidak ada hubungannya kesukaan — kesukaan, tujuan — tujuan hidup, ambisi — ambisi, atau bahkan usaha merealisasikan legenda pribadinya.



It is an about 1,5 years short life story of Roby Widjaja between the year 2003 to 2005 in Bali. “Life goes on”, that was what he thought and did after he left his first startup company.


Ini adalah sebuah kisah singkat tentang hidup Roby Widjaja selama sekitar 1,5 tahun antara tahun 2003 sampai dengan 2005 di Bali. “Hidup terus berjalan”, sekedar melanjutkan hidup yang tidak bisa diakhiri begitu saja dan dengan apa saja yang sedang dimiliki saat itu, Itulah yang ia pikirkan dan lakukan setelah ia meninggal perusahaan rintisan pertamanya.



Roby Widjaja always saved a few percentages of his monthly salary from his first startup company. By that saving account with about USD 2,000 cash in it, He had to survive after he left his first startup company empty-handedly literally. He tried to found a new startup company and pay his daily living costs with that USD 2,000 financial capital only.


Roby Widjaja selalu menabung beberapa persen dari gaji per bulannya dari perusahaan rintisan pertamanya. Bermodalkan uang tabungan tunai sekitar USD 2,000 itu, ia harus bertahan hidup setelah ia meninggalkan perusahaan rintisan pertamanya dengan tangan kosong dalam arti harfiah. Ia mencoba mendirikan sebuah perusahaan rintisan baru dan membayar biaya — biaya hidup sehari — harinya hanya dengan modal finansial sekitar USD 2,000 itu.



He set a target for himself that within a week after he left his first startup company, he had to have a new business idea that he could start it with only about USD 2,000 cash and some people on his mobile phone contact list whom he still could contact to. He really understood very well when people become jobless or bankrupt in their businesses, most of the people on his or her contact list will be too difficult to contact because of too creative reasons those people created creatively just for avoiding the jobless person or bankrupt businessman who try to contact them.


Ia menentukan sebuah target ke dirinya sendiri bahwa dalam seminggu setelah ia meninggalkan perusahaan rintisan pertamanya, ia harus memiliki sebuah ide bisnis baru yang bisa ia mulai hanya dengan modal USD 2,000 tunai dan beberapa orang di daftar kontak telepon genggamnya yang masih bisa dihubungi. Ia benar — benar memahami bahwa ketika orang — orang menjadi pengangguran atau pengusaha bangkrut, sebagian besar orang dalam daftar kontaknya akan menjadi terlalu sulit untuk dihubungi karena alasan — alasan kreatif yang diciptakan orang — orang tersebut secara kreatif hanya untuk menghindari si pengangguran atau pengusaha bangkrut yang mencoba menghubungi mereka.



It was absolutely another bitter life experience for him to know that most people whom you have helped them many times financially and non-financially are the ones who the first pretend never know you before when you need their help most. Most people from your family, friends, and working or business colleagues will suddenly have an “amnesia” about you when you become a jobless person or bankrupt businessman. “Wealth makes many friends, But the poor is separated from his friend” [ Proverbs 19:4, Catholic or Christian Bible ].


Hal ini pastilah sebuah pengalaman hidup pahit lainnya baginya untuk mengetahui bahwa sebagian besar orang yang kamu sering bantu secara finansial dan nonfinansial adalah justru yang paling pertama berpura — pura tidak pernah kenal kamu sebelumnya ketika kamu sangat membutuhkan bantuan mereka. Sebagian besar dari saudara sedarahmu, teman — temanmu, teman kerja dan bisnismu akan mendadak mengidap “amnesia” tentang kamu ketika kamu menjadi seorang pengangguran atau pengusaha bangkrut. “Kekayaan menambah banyak sahabat, tetapi orang miskin ditinggalkan sahabatnya” [ Amsal 19:4, Alkitab Katolik atau Kristen ].



Within a week of analysing many different business opportunities, Roby Widjaja decided to start sea fishes international trading and processing business finally.


Selama seminggu menganalisa beberapa peluang bisnis yang berbeda, akhirnya Roby Widjaja memutuskan untuk memulai bisnis perdagangan internasional dan pemrosesan ikan — ikan laut.



He got two opportunities at that time, exporting raw whole and fillet tuna fishes and other sea fishes to Tsukiji Fish Market by auction system through a selling agent in Japan or to Itochu Corporation with a fixed price system. After analysing both market opportunities, Roby Widjaja chose to export the sea fishes to Itochu Corporation with a fixed price system. Then, within two weeks, He negotiated and signed a Sales and Purchase Agreement document between Itochu Corporation and him for the first USD 10 million sea fishes delivery especially yellowfin and bluefin tuna fishes.


Ia mendapatkan dua peluang pada waktu itu, mengekspor ikan tuna dan ikan — ikan laut lainnya secara utuh dan terpotong — potong ke Pasar Lelang Ikan Tsukiji dengan sistem lelang melalui sebuah agen penjualan di Jepang atau ke Itochu Corporation dengan sistem harga pas. Setelah menganalisis kedua peluang pasar tersebut, Roby Widjaja memilih untuk mengekspor ikan — ikan lautnya ke Itochu Corporation dengan sistem harga pas. Selanjutnya, dalam waktu dua minggu, ia melakukan negosiasi dan menandatangani sebuah Dokumen Kesepakatan Jual Beli antara Itochu Corporation dengan dirinya untuk pengiriman ikan — ikan laut senilai USD 10 juta pertama terutama untuk ikan tuna bersirip kuning dan biru.



Although he got a USD 10 million sales contract with Itochu Corporation with a fixed price system, he still didn’t have reliable sea fishes suppliers. That was the second problem he had to solve in this fish business. He travelled to three different locations in Indonesia in a quest of finding reliable sea fish suppliers, it was Pinrang fishermen village about 3 hours car driving from Makassar city of Sulawesi Island, Sorong City in Papua Island, and Benoa Sea Port in Bali Island. After analysing all aspects, he decided to buy sea fishes from Benoa — Bali Island.


Meskipun ia sudah mendapatkan kontrak penjualan ikan laut senilai USD 10 juta dengan Itochu Corporation dengan sistem harga pas, ia masih belum mendapatkan para supplier ikan laut yang bisa diandalkan. Itu adalah masalah kedua yang ia harus selesaikan di bisnis ikan ini. Ia melakukan perjalanan pencarian supplier ikan laut yang terpercaya ke tiga lokasi yang berbeda di Indonesia, yaitu desa nelayan Pinrang yang berjarak sekitar 3 jam perjalanan darat dengan mobil dari kota Makassar di pulau Sulawesi, kota Sorong di pulau Papua, dan pelabuhan laut Benoa di pulau Bali. Setelah menganalisa segala aspek, ia memutuskan untuk membeli ikan — ikan laut dari pelabuhan laut Benoa di pulau Bali Indonesia.



It was the beginning of his tough street “Gangster” life. With only about USD 1,000 left in his saving account, a signed USD 10 million Sales and Purchase Agreement Document with Itochu Corporation, Roby Widjaja rented a cheap dirty hotel room inside Benoa Sea Port of Bali Island and stayed there for a long stay. He moved and stayed physically inside Benoa Sea Port area and ran the sea fishes business from there.


Inilah permulaan dari kehidupan keras “preman” jalanan seorang Roby Widjaja. Hanya dengan sekitar USD 1,000 yang tersisa di tabungannya, dan sebuah Dokumen Kesepakatan Jual Beli dengan Itochu Corporation senilai USD 10 juta yang sudah ditandatangani, Roby Widjaja kemudian menyewa sebuah kamar hotel yang murah dan kotor di dalam wilayah Pelabuhan Laut Benoa — Pulau Bali dan tinggal disana dalam jangka panjang. Ia pindah dan tinggal secara fisik di dalam wilayah Pelabuhan Laut Benoa dan menjalankan bisnis ikan lautnya dari sana.





During his days living inside Benoa Sea Port, he saw two or more people fighting physically on the streets too often but the nearby police officers did nothing to them. From this tough street “Gangster” life, Roby Widjaja learned to survive in uncivilized situations and how to “conquer” and deal with the street “gangsters” inside the Benoa Sea Port. It is something that no formal school or education teaches about, ones can only learn it by doing on the “streets life”.


Selama hari — harinya hidup di dalam wilayah pelabuhan laut Benoa, ia terlalu sering melihat dua atau lebih orang sedang saling pukul secara fisik di jalanan dan para petugas polisi yang hanya beberapa meter dari mereka hanya melihat dan tidak berbuat apa — apa terhadap mereka. Dari kehidupan keras “Preman” jalanan ini, Roby Widjaja belajar bagaimana bertahan hidup di dalam situasi — situasi yang tidak beradab dan bagaimana “menaklukkan” dan berurusan dengan para “preman” jalanan di dalam wilayah pelabuhan laut Benoa. Hal seperti ini adalah sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah atau pendidikan formal manapun juga, siapapun juga hanya dapat mempelajarinya dari belajar-melalui-melakukan di kehidupan jalanan secara nyata.



Although living, dealing, and doing business with street “gangsters” every day, Roby Widjaja never felt a need to have bodyguards around him at that time, Why? He believes this life principle, “There is always at least 1% kindness or good thing from bad people, but also there is always at least 1% evil things from good people”. Roby Widjaja only used Social Soft Powers, Universal Humanity Values, in “conquering” and dealing with the street “gangsters” at that time. So, he used their daily verbal language when he was communicating with them, yes, including their favourite swearing words. He shared social street jokes a lot with them because of the fact of life most people like funny people, funny jokes, and to be entertained. He treated them with free lunches and beers once a week and used that lunchtime for building trust from the street “gangsters”. The whole story in just a few words, Roby Widjaja applied what Bruce Lee said, “Be like Water. Water becomes a glass when it is inside a glass. Water becomes a bottle when it is inside a bottle”.


Meskipun hidup, berurusan, dan melakukan bisnis dengan para “preman” jalanan setiap hari, Roby Widjaja tidak pernah merasa membutuhkan memiliki para pengawal di sekelilingnya pada waktu itu, mengapa ? Ia percaya akan sebuah prinsip hidup ini “Selalu ada sedikitnya 1% kebaikan atau hal baik dari orang — orang yang dianggap jahat di masyarakat, dan sebaliknya selalu ada sedikitnya 1% hal jahat dari orang — orang yang dianggap baik di masyarakat”. Roby Widjaja hanya menggunakan Senjata Lunak Sosial, Nilai — Nilai Kemanusiaan yang Universal, dalam “menaklukkan” dan berurusan dengan para “preman” jalanan itu pada waktu itu. Jadi, ia menggunakan bahasa lisan sehari — hari mereka ketika sedang berkomunikasi dengan mereka, ya, termasuk ikut — ikutan menggunakan kata — kata umpatan favorit mereka. Ia juga sering berbagi cerita humor jalanan kepada mereka, karena fakta kehidupan nyata berkata bahwa sebagian besar orang suka dengan orang — orang yang lucu, humor — humor yang lucu, dan suka dihibur. Ia rutin mentraktir mereka makan siang dan minum bir gratis seminggu sekali dan menggunakan waktu makan siang bersama itu untuk membangun kepercayaan dari para “preman” jalanan itu. Keseluruhan ceritanya dalam beberapa kata adalah, Roby Widjaja menerapkan apa yang dikatakan Bruce Lee, “Jadilah seperti Air. Air menjadi berbentuk gelas ketika sedang berada di dalam gelas. Air menjadi berbentuk botol ketika sedang berada di dalam botol”.




Why was it important for Roby Widjaja to “conquer”, build trust, and deal with the street “gangsters” inside the Benoa Sea Port? There was an unwritten rule, a social rule, inside the Benoa Sea Port. The rule was, “Sea fishes buyers weren’t allowed to buy sea fishes directly from the fishing ships and its ship crews. Buyers must buy it from those street “gangsters” and give them IDR 500 per kilogram sea fishes brokerage commission.”. Just try to break that rule, those street “gangsters” will kill you with knives on the streets literally or punch you many times on the streets that no police officers dared to stop it when those police officers see it in front of them. The fact, those street “gangsters” provided values for both buyers and fishing ship owners in a service, informing all their buyers on their personal contact list every time there is a fishing ship will harbour on the seaport and unload their fishes in next few hours. Yes, including the detail information about the fish types and their amount in kilograms.


Mengapa begitu penting bagi Roby Widjaja untuk “menaklukkan”, membangun kepercayaan, dan berurusan dengan para “preman” jalanan di dalam wilayah pelabuhan laut Benoa tersebut ? Waktu itu ada sebuah peraturan tidak tertulis, peraturan sosial, di dalam wilayah pelabuhan laut Benoa. Peraturan itu adalah, “Para pembeli ikan laut tidak diperbolehkan membeli ikan langsung dari kapal — kapal penangkap ikan dan para anak buah kapalnya. Para pembeli ikan harus membelinya melalui para “preman” jalanan itu dan memberikan komisi transaksi sebesar IDR 500 tiap kilogram ikan yang dibeli.” Silakan coba melanggar peraturan tidak tertulis itu, maka para “preman” jalanan itu akan membunuhmu dengan pisau di jalanan secara harfiah atau memukulmu berulang kali secara fisik di jalanan dimana para polisi yang melihatnya tidak punya keberanian untuk menghentikannya. Faktanya, para “preman” jalanan itu memberikan nilai — nilai dalam jasanya kepada para pembeli ikan dan pemilik kapal penangkap ikan, yaitu memberikan informasi kepada semua pembeli ikan dalam daftar kontaknya tentang kapal penangkap ikan yang akan segera sandar di pelabuhan beberapa jam kemudian dan termasuk informasi detail tentang jenis — jenis ikan laut dan jumlahnya dalam kilogram di dalam kapal penangkap ikan itu.




Learning the real situation of the business that it was the sea fishes buyers who always hunted the sea fishes and the fishing ship owners to buy it, not the sea fishes and the fishing ship owners who always hunted the sea fish buyers, Roby Widjaja understood very well it was very important to get the information first before other buyers about the fishing ships which will harbour and the detail information about the fishes inside it. The sea fishes inside the fishing ships were purchased by the buyers before the ships harboured on the seaport too often. Information, Information, and Information. Getting the information the earliest before all other buyers got it from the street “gangsters” was the key to win that fishes hunting. Being respected by all of those street “gangsters” and admitted as their informal “gangsters” leader in just a few weeks of social interaction with them really gave me a great business advantage, the one who always received the information the first time, the earliest one.


Mempelajari situasi nyata dari bisnis ini bahwa para pembeli ikan laut yang memburu ikan — ikan laut tangkapan dan para pemilik kapal penangkap ikan, bukan ikan — ikan laut tangkapan dan para pemilik kapal penangkap ikan yang memburu para pembeli ikan laut, Roby Widjaja memahami dengan baik bahwa adalah sangat penting untuk mendapatkan informasi yang paling pertama sebelum para pembeli ikan lainnya tentang kapal — kapal penangkap ikan laut yang akan segera sandar di pelabuhan dan informasi detail tentang ikan — ikan hasil tangkapan di dalamnya. Informasi, Informasi, dan Informasi. Mendapatkan informasi yang paling awal sebelum para pembeli ikan lainnya mendapatkannya dari para “preman” jalanan adalah kunci untuk memenangkan perburuan ikan ini. Menjadi dihormati oleh semua “preman” jalanan itu dan diakui sebagai “pemimpin” informal mereka hanya dalam waktu beberapa minggu saja melakukan interaksi sosial dengan mereka benar — benar memberikan sebuah keuntungan bisnis besar bagiku, yaitu menjadi pembeli ikan yang selalu mendapatkan informasi paling pertama, yang paling awal.




Learning to “conquer”, deal, and do business with the street “gangsters” was just one part of the business. Roby Widjaja also must learn how to observe the sea fishes to determine its quality grades. Different quality grades on the same sea fish species cause different prices per kilogram of the fish. The highest to medium quality grades were usually exported to foreign countries and the worst quality grade was usually sold and distributed to the local Indonesian market.


Belajar untuk “menaklukkan”, berurusan, dan melakukan bisnis dengan para “preman” jalanan hanyalah satu bagian dari keseluruhan bisnis ini. Roby Widjaja juga harus belajar bagaimana mengamati ikan — ikan laut itu untuk menentukan klasifikasi kualitas ikan — ikan tersebut. Klasifikasi kualitas yang berbeda pada jenis spesies ikan yang sama menyebabkan harga — harga yang berbeda per kilogram ikannya. Klasifikasi kualitas terbaik sampai menengah biasanya diekspor ke negara — negara lain dan kualitas terburuk biasanya dijual dan didistribusikan ke pasar lokal Indonesia.



Roby Widjaja also had to learn about fish processing, the whole process starting from receiving the fishes from the ships to packaging the fishes. Other than learning by doing guided by a few fish processing company employees, he also learned from books, free and paid learning resources on the internet, and paid short courses. One of the paid short courses he learned from was about HACCP. HACCP knowledge and application was very important for fish processing companies which had an export market.


Roby Widjaja juga harus belajar tentang pemrosesan ikan, keseluruhan prosesnya dimulai dari penerimaan ikan dari kapal sampai ke tahap mengemas ikan — ikan yang telah selesai diproses. Selain belajar melalui melakukan yang dibimbing oleh beberapa karyawan perusahaan pemroses ikan, ia juga belajar melalui buku — buku, materi belajar gratis dan berbayar di Internet, dan beberapa kursus singkat berbayar. Salah satu kursus singkat berbayar yang diikutinya adalah tentang HACCP. Pengetahuan dan aplikasi HACCP dahulu sangat penting bagi perusahaan — perusahaan pemroses ikan yang mempunyai pasar ekspor.




One more thing that Roby Widjaja must learn at that time, that no formal schools or education in this world teaches about it, was entertaining the buyers’ representative officers. Yes, he learned about it too when he was running his first startup company previously, but this time, It was much more wild entertainments that he must give to his customers. No books teach about it too. It was a “street smart” education. It was a common practice that buyers or buyer’s representative officers always asked to be entertained when they come to the sellers’ places. Some “polite” buyers only asked “ordinary” entertainments such as eating on the best local restaurants, drinking on the best local pubs or cafes while enjoying live music, shopping, enjoying services of a luxury spa, etc. But, the “naughty” buyers could ask “extra-ordinary” entertainments, such as sexual intercourses with paid women or men prostitutes. They were never shy to ask it to him, because Roby Widjaja was already famous in the mind of foreign countries buyers and their representative officers as the “one” who could give ALL kinds of entertainments without limitation that Bali could provide, including the underground entertainments. Don’t think there were only male buyers who asked that “extra-ordinary” entertainments, a few female buyers asked for it. Who paid all of those expensive entertainments bills? Not the street “gangsters”, not the fish processing companies owners, not the fishing ships owners, but, yes, Roby Widjaja paid it 100% every single time.


Satu hal lagi yang Roby Widjaja harus belajar pada waktu itu, hal yang tidak ada sekolah dan pendidikan formal mengajarkannya, adalah tentang menghibur para pembeli atau petugas perwakilan pembeli. Ya, ia mempelajarinya juga tentang hal ini ketika ia masih sedang menjalankan perusahaan rintisan pertamanya sebelumnya. Tetapi kali ini, ini suguhan hiburan — hiburan yang jauh lebih liar yang harus ia suguhkan kepada para pembeli ikannya. Tidak ada buku yang mengajarkannya juga. Itu semua adalah “pendidikan jalanan”. Adalah sebuah praktik umum bahwa para pembeli atau petugas perwakilannya selalu minta dihibur ketika mereka datang ke tempat — tempat para penjual ikan. Beberapa pembeli “sopan” biasanya hanya meminta hiburan — hiburan “biasa” saja seperti diajak makan di restoran — restoran lokal terbaik, minum — minum di pub — pub atau cafe — cafe lokal sambil menikmati live music, berbelanja, menikmati layanan — layanan dari spa — spa mewah, dan lain sebagainya. Tetapi, para pembeli “nakal” juga bisa meminta hiburan — hiburan “luar biasa”, seperti menikmati hubungan seks dengan para wanita atau pria yang dibayar untuk itu. Mereka tidak pernah malu untuk memintanya kepadanya, karena Roby Widjaja waktu itu sudah terkenal di benak para pembeli ikan dari luar negeri sebagai “dia” yang bisa memberikan SEMUA jenis hiburan tanpa ada batasan yang Bali bisa suguhkan, termasuk hiburan — hiburan bawah tanah. Jangan berpikir bahwa hanya para pembeli ikan lelaki yang meminta hiburan — hiburan “luar biasa” seperti itu, beberapa pembeli perempuan juga memintanya. Siapa yang membayar semua biaya mahal hiburan — hiburan itu? Bukan para “preman” jalanan, bukan pula para pemilik perusahaan pemrosesan ikan, juga bukan para pemilik kapal penangkapan ikan, tetapi, ya, Roby Widjaja yang selalu membayarnya 100% setiap kali.





Most Japanese and Taiwanese buyers always asked to be entertained on the luxury karaoke places in Bali. Roby Widjaja’s face and name were very famous and highly respected by few of karaoke managers and its car parking officers. That’s why Roby Widjaja also learned to sing many songs just for entertainment purpose. So, those “naughty” buyers always chose to sing on karaoke places which provided Ladies Companions or Ladies Escorts inside. Yes, most of those karaoke ladies usually gave sexual intercourse services in the hotel rooms after the karaoke session. Those “naughty” buyers usually asked those karaoke girls to sleep with them in the hotel after the karaoke session.


Sebagian besar dari para pembeli jepang dan taiwan selalu minta dihibur di tempat — tempat karaoke mewah di Bali. Wajah dan nama Roby Widjaja waktu itu sudah sangat terkenal dan sangat dihormati oleh beberapa manajer tempat karaoke dan para tukang parkir mobilnya. Itulah mengapa Roby Widjaja juga sempat belajar menyanyikan beberapa lagu untuk tujuan menghibur para pembeli ikannya saja. Jadi, para pembeli “nakal” tersebut selalu memilih karaoke di tempat karaoke mewah yang menyediakan para wanita pemandu lagu di dalamnya. Ya, sebagian besar para wanita pemandu lagu itu biasanya memberikan jasa layanan hubungan seks di hotel setelah sesi karaoke berakhir. Para pembeli “nakal” itu biasanya meminta para wanita pemandu lagu itu untuk tidur bersama mereka di hotel setelah sesi karaoke berakhir.



Because Roby Widjaja only ran the business with about USD 1,000 cash, he couldn’t have a business legal entity which was registered as exporter legally. He also couldn’t have his fish processing facility although he has learned the whole thing about it. Building the smallest fish processing facility on a rented land needed minimum about USD 200,000 at that time. No one single individual investor wanted to invest in his second business because he was a bankrupt businessman on his first startup company. No common ordinary banks wanted to give loan to him because he didn’t have any bankable collaterals. So, what could he do at that time with all of those limitations? Although he got a USD 10 million sales contract with Itochu Corporation and he has learned the whole things about running a fish processing company, he could only become a broker. Yes, he had to sell the fishes to his buyers through other existed fish processing companies under the name of those companies. This was the weakness of the business model, all the fish processing companies knew who the real buyers and all of the buyers’ detail information. The buyers also knew all detail information of the shippers. That was a fatal mistake he couldn’t avoid because of his nanoscale financial equity, USD 1,000 cash only.


Karena Roby Widjaja hanya menjalankan bisnis ini dengan modal uang tunai sekitar USD 1,000 saja, ia tidak bisa mempunyai perusahaan berbadan hukum legal yang terdaftar sebagai eksportir secara legal. Ia juga tidak bisa mempunyai fasilitas pemrosesan ikan sendiri meskipun ia sudah mempelajari segala sesuatu tentang pemrosesan ikan. Membangun fasilitas pemrosesan ikan terkecil di atas tanah sewa membutuhkan modal finansial sebesar USD 200,000 pada waktu itu. Tidak ada seorang investor pribadi pun yang ingin berinvestasi di bisnis keduanya karena ia sempat bangkrut di perusahaan rintisan pertamanya. Tidak ada satu bank umum pun yang mau memberinya kredit usaha karena ia tidak memiliki aset fisik yang laku dijaminkan ke bank. Jadi, apa yang bisa ia lakukan pada waktu itu dengan segala keterbatasannya? Meskipun ia sudah mempunyai kontrak penjualan ikan dengan Itochu Corporation sebesar USD 10 juta dan sudah mempelajari segala sesuatu tentang menjalankan bisnis pemrosesan ikan, ia hanya bisa menjadi broker ikan. Ya, ia terpaksa harus menjual ikan ke para pembelinya melalui para perusahaan pemrosesan ikan yang sudah ada milik orang lain atas nama perusahaan — perusahaan tersebut. Inilah kelemahan dari model bisnisnya, semua perusahaan pemrosesan ikan itu jadi mengetahui siapa pembeli aslinya dan semua informasi detail pembeli — pembeli itu. Para pembeli juga jadi tahu semua informasi detail dari para perusahaan pengirim ikan tersebut. Itu adalah sebuah kesalahan fatal yang ia tidak bisa hindari karena modal finansialnya yang berskala nano, yaitu hanya USD 1,000 saja.



As an “elite” sea fishes international trading broker who could give reputable international sea fishes buyers to the fish processing companies in Bali, he only received between 2% to 5% brokerage commission per shipment. As a startup company which was founded with only about USD 2,000 financial equity, it was a very good business. The first-month total brokerage commission, revenue, not profit, was about USD 5,000.


Sebagai seorang broker “elite” perdagangan internasional komoditi ikan laut yang bisa memberikan para pembeli ikan internasional terpercaya kepada para perusahaan pemrosesan ikan di Bali, ia hanya menerima komisi jasa brokernya antara 2% sampai dengan 5% per sekali pengiriman ikan ke pembeli. Sebagai sebuah perusahaan rintisan yang didirikan hanya dengan modal saham finansial sekitar USD 2,000 saja, bisnis ini adalah bisnis yang sangat bagus. Total komisi jasa broker di bulan pertama, pendapatan, bukan keuntungan, adalah sekitar USD 5,000.



But nothing is perfect in this world, right? The first weakness on this business model was each shipper only paid brokerage commission to Roby Widjaja twice or three times. After the second or third sea fishes shipment, both shipper and buyer felt that he wasn’t useful anymore for them, because they both could trade without him. That’s why he always tried to find new suppliers and buyers many times during this business.


Tetapi tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Kelemahan pertama dari model bisnis ini adalah setiap supplier ikan hanya mau memberi komisi jasa broker kepada Roby Widjaja dua atau tiga kali saja. Setelah pengiriman ikan kedua atau ketiga, baik supplier ikan maupun pembeli ikan merasa bahwa ia sudah tidak berguna lagi bagi mereka, karena kedua belah pihak sudah bisa bertransaksi sendiri tanpa dia. Itulah mengapa akhirnya ia selalu mencari supplier ikan dan pembeli ikan baru terus selama dalam bisnis ini.



The second weakness was the buyers’ entertainment expenses were about 80% of the brokerage commission revenue on average. Roby Widjaja didn’t have ways to reduce that entertainment expenses, because he couldn’t reject buyers’ requests. So, although the brokerage commission revenue was big enough for a startup company started with about USD 2,000 financial capital only, the operational expenses were big too, about 90% ( buyers entertainment expenses and other daily expenses ) of the revenue in average. It means Roby Widjaja could only get net profit 10% from monthly revenue on average.


Kelemahan kedua adalah biaya menghibur para pembeli ikan adalah sekitar 80% dari total pendapatan komisi broker secara rata — rata. Roby Widjaja kehabisan cara untuk mengurangi biaya menghibur para pembeli ikannya, karena ia tidak bisa menolak permintaan — permintaan para pembelinya. Jadi, meskipun pendapatan komisi brokernya cukup besar untuk sebuah perusahaan rintisan yang dimulai dengan modal finansial hanya sekitar USD 2,000 saja, biaya operasionalnya juga cukup besar, yaitu sekitar 90% ( total biaya menghibur para pembeli ikan dan biaya operasional harian lainnya ) dari pendapatan secara rata — rata. Artinya Roby Widjaja hanya bisa mendapatkan keuntungan bersih sekitar 10% saja dari pendapatan tiap bulan secara rata — rata.



One day, Roby Widjaja spent a few days for a “me time”. He spent those “me time” days for a “meditation” and thinking about his future. He read many different books, including Christian Bible and Christian spirituality books, during his “me time” on the private beaches of 5 stars hotels in Nusa Dua or his favourite cafes while enjoying his cigars and coffees. Yes, he loved to smoke Havana Cuban Cigars too occasionally.


Suatu hari, Roby Widjaja meluangkan waktu beberapa hari untuk berpikir dan merenungkan banyak hal. Ia mengambil waktu beberapa hari untuk melakukan semacam “meditasi” dan berpikir untuk masa depannya. Ia sempat membaca beberapa buku, termasuk Alkitab Kristen dan buku — buku rohani Kristen, selama masa “meditasi” nya di pantai — pantai eksklusif hotel — hotel bintang 5 di Nusa Dua Bali atau di beberapa cafe favoritnya sambil menikmati cerutu dan kopinya. Ya, ia juga suka menghisap Cerutu Havana Kuba sesekali.



After the “me time”, tired with his nightlife style, satisfying naughty desires of “naughty” buyers, and vanity financial race of “generating-big-income-and-spending-big-too, Roby Widjaja decided to stop this business and try to find new business opportunities for a better life and better future finally.


Setelah masa “meditasi” itu, merasa sia — sia dengan gaya hidup kehidupan malamnya, memuaskan keinginan — keinginan nakal dari para pembeli ikan “nakal” nya, perburuan keuangan sia — sia yang “menghasilkan-penghasilan-besar-dan-berbiaya-besar-pula”, Roby Widjaja akhirnya memutuskan untuk menghentikan bisnis ini dan mencoba untuk menemukan peluang — peluang bisnis baru untuk hidup yang lebih baik dan masa depan yang lebih baik.



The life lessons that Roby Widjaja learned from this part of his life were:

  1. Most of your family, friends, and acquaintances will forget you and even pretend never know you, just like Peter denying Jesus Christ three times [ Matthew 26: 69–75, Catholic or Christian Bible ], when you are jobless, you desperately need their help, you are bankrupt, or you don’t have money. Although you may have helped them many times financially and non-financially, most of them will still forget you or even pretend never know you in time of your life difficulties.

  2. It’s good to be kind and help other people financially and non-financially, but do it with unconditional true love, don’t expect them to love you back just like the way you love them. If they love you back, it’s a life bonus.

  3. Entertaining customers is part of the business that can’t be avoided in certain business types. The most difficult part of doing this job is how to make someone you must entertain, be honest, and much more honest to you than they are honest to their husbands or wives or parents, not shy, not afraid, “totally naked” about their desires including the “naughty” ones, in just a few hours you meet them physically. Psychology taught me that most people will just agree easily about anything that is being offered to them when they are in an ecstatic state of mind. The arts of entertaining other people must be learned by doing, no books teach it, and no formal schools or educations teach about it.

  4. Almost everything in this world needs money to have it, but money isn’t everything. There are other more important things than money.

  5. Life is not just about making money only, there are passions, dreams, ambitions, purposes of life, the meaning of life, etc that we all must know and pursue it.



Pelajaran — pelajaran hidup yang dipelajari Roby Widjaja dari bagian dari hidupnya ini adalah:


  1. Sebagian besar saudaramu, teman — temanmu, kenalan — kenalanmu akan melupakanmu dan bahkan berpura — pura tidak pernah kenal kamu, seperti Petrus menyangkali Yesus Kristus tiga kali [ Matius 26: 69–75, Alkitab Katolik atau Kristen ], ketika kamu menjadi seorang pengangguran, kamu sangat membutuhkan bantuan mereka, kamu menjadi bangkrut, atau kamu tidak punya uang. Meskipun kamu mungkin telah banyak membantu mereka secara finansial dan nonfinansial, sebagian besar dari mereka tetap akan melupakanmu atau bahkan berpura — pura tidak pernah kenal kamu di saat kamu sedang mengalami kesulitan — kesulitan hidupmu.

  2. Adalah sesuatu yang baik untuk menjadi baik dan membantu orang lain secara finansial dan nonfinansial, tetapi lakukanlah dengan kasih sejati tanpa syarat apapun, jangan berharap mereka akan mengasihimu kembali sama dengan kasih yang kamu berikan kepada mereka. Kalau mereka akhirnya mengasihimu juga, itu adalah bonus dalam hidup.

  3. Menghibur para pelanggan adalah bagian dari bisnis yang tidak bisa dihindari dalam beberapa jenis bisnis tertentu. Bagian tersulit dalam melakukan pekerjaan ini adalah bagaimana membuat seseorang yang harus kamu hibur, menjadi jujur, dan jauh lebih jujur kepada kamu daripada mereka jujur kepada suami atau istri atau orang tua mereka, tidak malu — malu, tidak takut, “telanjang bulat” tentang keinginan — keinginan mereka termasuk keinginan — keinginan “nakal” mereka, hanya dalam waktu beberapa jam saja saat kamu baru bertemu mereka secara fisik. Ilmu Psikologi mengajarkan kepadaku bahwa sebagian besar orang akan setuju begitu saja dengan mudah pada apa yang sedang ditawarkan kepada mereka ketika mereka sedang dalam kondisi pikiran yang terlalu senang, atau bahagia, atau bersuka cita. Seni Menghibur orang lain ini harus dipelajari melalui melakukannya, tidak ada buku yang mengajarkannya, tidak ada sekolah atau pendidikan formal mengajarkan tentang ini.

  4. Hampir segala sesuatu di dunia ini membutuhkan uang untuk memilikinya, tetapi uang bukan segalanya. Masih ada banyak hal lainnya yang lebih penting selain uang.

  5. Hidup bukan hanya sekedar menghasilkan uang saja, masih ada kesukaan — kesukaan, mimpi — mimpi, ambisi — ambisi, maksud dan tujuan hidup, makna hidup, dan lain — lain yang kita semua harus tahu dan mengejarnya.



To be continued on: It’s a [ Roby Widjaja Tells a Story About Roby Widjaja ] Story — Part 4.


Bersambung pada: It’s a [ Roby Widjaja Tells a Story About Roby Widjaja ] Story — Part 4.




Roby Widjaja, The Storyteller and also The Subject of this true life story.

Roby Widjaja, Sang Pencerita Cerita dan sekaligus Sang Subyek cerita pada kisah hidup nyata ini.



Digital Marketing Specialist and Strategist, Website and Web Application Developer, Mobile Apps Developer, Market Researcher, Search Engine Optimization ( SEO ) Specialist, Digital Advertising Specialist, Social Media Management Specialist, Digital Content Creator, Digital Artist, Independent Writer, Graphic Designer, Videographer and Video Editor, 2D/3D Animator, Software Developer, Scientist, Thinker, and Entrepreneur.


Spesialis dan Pembuat Strategi Pemasaran Digital, Pengembang situs web dan aplikasi berbasis web, Pengembang Aplikasi Ponsel Cerdas, Spesialis Optimasi Mesin Pencarian, Spesialis Manajemen Iklan Digital, Spesialis Manajemen Akun Media Sosial, Kreator Konten Digital, Seniman Digital, Penulis Lepas Mandiri, Desainer Grafis, Videografer dan Editor Video, Kreator Animasi 2D/3D, Pengembang Perangkat Lunak Komputer, Ilmuwan, Pemikir, dan Wirausahawan.



100% Shareowner, Founder, and CEO of iMarketology and Arts-of-Life. Both iMarketology and Arts-of-Life haven’t been incorporated legally yet anywhere in this world.


Pemilik 100% Saham, Pendiri, dan Direktur Utama dari iMarketology dan Arts-of-Life. Baik iMarketology maupun Arts-of-Life belum dibuat badan hukumnya secara legal dimanapun juga di dunia ini.



Social Media: Instagram | Twitter | Facebook | Facebook Page | Linkedin

Wattpad



© 2019 by iMarketology.